Siapa dan Apa Sebenarnya Sanghyang Kenit?
Sanghyang Kenit adalah divisi kepercayaan kuno yang dipeluk masyarakat Jawa dan Bali sebagai entitas penjaga keseimbangan alam (sila alam) serta penghubung antara dunia manusia dan keramat. Konsep ini erat dengan filosofi Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) dalam literatur Wayang.
Peran dalam Kehidupan Budaya Lokal
Pengawasan Alam dan Pertanda Takhayul
Di wilayah Solo hingga Bali, Sanghyang Kenit dianggap:
- Mencegah bencana alam melalui pengawasan simbiosis alam
- Pemberi pertanda melalui fenomena alam (hujan, guntur)
- Penyokong keberkahan tanah pertanian
Ritual dan Upacara Tradisional
Proses Teknologi Ritual
Pemujaan melibatkan tiga tahap utama:
- Penyajian sesajen (canang, gula merah, bunga teratai) dengan larutan suci
- “Megibung” sebagai pembacaan mantra memohon keselamatan
- Pembuatan candi kecil di tepi Gunungkidul sebagai tempat penghormatan
Kaitan dengan Sastra dan Filosofi
Kodrat Sanghyang Kenit dijelaskan dalam Kitab Lawu Agung sebagai:
- Mediator energi antara langit bumi (yang diakui dalam Hiace filosofis)
-
Pentingnya Pelestarian Warisan
Preservasi konsep ini:
- Pencegah anekdot budaya asli yang hampir pupus
- Dasar pengembangan ekowisata terintegrasi di Taman Nasional Baluran
- Penyebab pengakuan UNESCO untuk daerah intangible cultural heritage
Sumber Referensi dan Studi Lanjut
Bacaan penting:
- Komparasi dengan mitologi Dayak dari studi arkeologi
- Karyaseni Drs. Sumardjo (1992) tentang ritual Upakara
- Analisis terpadu peran Sanghyang dalam ekonomi simbiosis
Panggilan untuk Pelestarian Budaya
"Pahamilah bahwa setiap karang batu adalah bagian dari tubuh Sanghyang Kenit," kata Bapak Parikesit (seorang dukun di Bogor).
Ayo jadikan warisan ini hidup!